Rabu, 19 Oktober 2011

Menikah? Persiapkanlah...

Entah mengapa, di malam yang sunyi ini, saya pengen nulis tentang pernikahan. Maklum, efek dari acara akad dan walimah seorang teman pada Sabtu 15 Oktober kemarin masih berasa, hehe. Hmm, untuk menghalalkan hubungan dua orang insan anak manusia itu sebenarnya gampang, mungkin prosesinya hanya butuh 1 menit di mana sang mempelai laki-laki mengucapkan 1 kalimat yang berisi perjanjian berat, “Saya terima nikahnya bla...bla…bla… binti bla…bla… dengan mas kawin blaa…la…la.”  Tapi di balik itu semua ada tanggung jawab besar yang harus ditunaikan oleh masing-masing pasangan baru tersebut. Makanya dibutuhkan kesiapan dan perencanaan yang matang.

Saya cukup kaget ketika bulan Ramadhan kemarin mendengar kabar seorang teman saya (laki-laki) dalam waktu dekat akan menikah. Padahal ia masih kuliah. Lebih kaget lagi, ketika saya dikabari oleh orang tua bahwa sepupu laki-laki saya yang baru lulus STM dan baru setahun bekerja di suatu perusahaan, memutuskan untuk menyempurnakan setengah agamanya dalam usia belia. Sungguh berani, mereka berani untuk menerima apa yang Allah janjikan bagi orang-orang yang menikah dengan niat untuk mensucikan dirinya. Masalah rizki? Allah sudah menjamin akan memberikan kelapangan. Subhaanallah.
Lalu, bagaimana dengan saya? Lho.. hehehe

Menikah bukan suatu keputusan yang hanya bersifat sesaat, namun itu merupakan keputusan yang bersifat abadi sepanjang hidup (kaya judul lagunya Maher Zain versi Indonesia, hehe). Maka, dibutuhkan kesiapan mental, lahir dan bathin untuk mengarungi bahtera cinta itu. Hmmm…
Berdasarkan materi kajian kemuslimahan di UI beberapa waktu yang lalu dengan seorang ustadzah, kesiapan yang harus dipersiapkan sebelum mengarungi samudera cinta dengan pasangan kita kelak yaitu meliputi kesiapan pemahaman (fikriyah), kesiapan batin (ruhiyah), kesiapan fisik (jasadiyah), dan kesiapan mental tentunya. Jangan lupa juga sembari kita mempersiapkan hal tersebut, kita harus tetap menjaga diri kita, menjaga iffah dan izzah kita. 

Maka dari itu, mari kita persiapkan dengan baik agar ketika ada seseorang yang datang dengan niatan suci, kita sudah siap karena telah kita persiapkan dengan baik dan matang. Itu bagi sudut pandang pihak perempuan. Bagaimana dengan sudut pandang pihak laki-laki? Bagi laki-laki, sama saja, harus mempersiapkannya juga. Ketika sudah siap dengan segala persiapan yang telah dipersiapkan, maka majulah dengan gagah berani.

Rasulullah bersabda, “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu serta berkeinginan untuk menikah, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan.” (Muttafaqun ‘alaih).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar